SAYA ... TENTANG FILM "ISTIRAHATLAH KATA-KATA" -- WIJI TUKU
Banyak film kisah-kisah
sejarah yang dibuat dalam bentuk film dokumenter ataupun kisah heroik sejarah perjuangan lainnya.
Film-film tersebut kuat dengan nuansa politik kekuasaan. Kita yang menonton pun hanya
sebatas menyaksikan untuk mengetahui sebuah rentetan sejarah yang telah terlewati. Berbeda ketika menonton film “Istirahatlah
Kata-Kata”.
Begi mereka yang ada atau
merasakan pergulatan demokrasi-reformasi versus politik Orde Baru – akan sangat membatu
memahami kuatnya perjuangan idealisme
demokrasi dari seorang Wiji Tukul melalui seni dan aksi. Menontoton film ini, kita pun ditarik dalam
arena percakapan yang ditampilkan untuk merasakan kolaborasi seni dan perjuangan yang berusaha mengatualisasikan
realita kemiskinan, ketertindasan orang kecil, dan otoritarian penguasa membungkan
rakyat jelata untuk tidak bersuara, yang dalam film ini digambarkan melalui Puisi-puisi
rakyat yang menjadi kata-kata terucap seorang Wiji disepanjang Film ini.
Suasana pembungkaman begitu kuat
terasa dalam dialog-dialog terbatas yang dimunculkan sepanjang pengembaraan
ketika Wiji menjadi TO (target operasi). Walau ada dialog-dialog lepas dengan Thomas
dan Marthin tetapi toh kita bisa merasakan ketegangan, kegusaran dan
kekecewaan dari seorang Wiji ketika suaranya harus terhenti, karena ruang gerak
dan kebebasannya dikunci dalam pelarian. Bahkan ketegangan tersebut harus
dipikul Istri dan anak perempuan yang selalu terintimidasi oleh intel
maupun tetangga yang bukan saja
mempertanyakan keberadaan Wiji tetapi juga merampas karya-karyanya, dan memaksa
sang istri menandatangani persetujuan ... bahkan sang istri digosipkan ketika
harus menemui Wiji dipenginapan.
Pada arena ini, walau dalam
penggalan terbatas, sosok perjuangan sang istri ‘Sipon’ dan anak perempuan
memperlihatkan bahwa dunia politik
kekuasaan selalu memakai perempuan dan anak sebagai tameng hidup untuk
mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi bersamaan itu kita juga dihadapkan
sosok perempuan kuat dan mandiri yang memegang prinsip tentang hak dan privasi
diri ... walau hati kecil rindu untuk Wiji selalu ada bersama mereka. Penggalan
pada awal film ketika mereka diintimidasi untuk mengetahui keberadaan Wiji,
... lalu menjelang akhir harus berjumpa denga Wiji di penginapan, dan bahkan ke
rumahpun harus bersembunyi .... menggambarkan pergulatan batin yang berat bagi
seorang perempuan desa dari rakyat kecil untuk mempertahankan apa yang menjadi
hak hidup mereka sebagai sebuah keluarga .... waktu kau jauh Aku tidak menangis ... tetapi justru kau ada aku
menangis .... pada hal aku hanya ingin kau ada bersama kami
Memang sosok yang ditampilkan film
ini adalah Wiji agar kita tidak boleh lengah dan berhenti menyuarakan
demokrasi, penuntasan kasus-kasus HAM termasuk kasus-kasus penculikan yang juga
dialami Wiji Tukul, sebagai utang yang harus terus ditagih. Tetapi di sisi lain
jika kita memperhatikan --walau dalam penggalan terbatas -- kita menemukan
wajah perempuan yang memilki integritas dalam bentangan perjuangan Wiji Itu
sendiri. Ia tidak saja hadir mendukung idealisme perjuangan seorang Wiji tetapi
juga pada saat yang sama Ia tampil sebagai seorang perempuan yang menjaga dan
melindungi hak hidupnya bersama sang anak. Siulan yang muncul pada percakan
dengan Wiji menjadi penggambaran akan kuatnya dukungan dan ketegaran seorang
perempuan yang berhadapan dengan berbagai intimidasi. Ia tidak dikejar ...
tetapi kebebasan dan ketentraman hidup dan rumah tangganya juga direnggut. Bahkan
ia harus memukul sang tetangga yang menggosipkannya --- sebagai bentuk
perlawanan terhadap stigma terhadap perempuan yang hidup sendiri.
Wiji yang paling tau makna di
balik judul “Istirahatlah Kata-Kata”, tetapi
bagi saya ini bentuk perlawanan terhadap pembungkaman Orde Baru.
“Istirahatlah Kata-Kata” juga mengisyaratkan hal yang menyakitkan ketika ide
dan pemikiran manusia tentang keadilan, tentang demokrasi, tentang hak asasi
... dilarang dikeluarkan dan harus “ditelan” kembali dalam pikiran dan raga. Ini
tidak boleh terjadi .... ini harus diperjuangkan dalam tindakan ... termasuk
menuntut keadilan terhadap penghilangan hak hidup, hak asasi, dan hak berbicara
dari Wiji dan teman-teman.
Itu share saya tentang makna dibalik film
“Istirahatlah Kata-Kata”...SEBAIKNYA TEMAN-TEMAN MENONTON FILM INI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar