Selasa, 28 Februari 2017



SAYA  ...  TENTANG FILM "ISTIRAHATLAH KATA-KATA" -- WIJI TUKU

Banyak film kisah-kisah sejarah yang dibuat dalam bentuk film dokumenter ataupun kisah heroik sejarah perjuangan lainnya. Film-film tersebut kuat dengan nuansa politik kekuasaan. Kita yang menonton pun  hanya sebatas menyaksikan untuk mengetahui sebuah rentetan sejarah yang telah terlewati. Berbeda ketika menonton film “Istirahatlah Kata-Kata”.

Begi mereka yang ada atau merasakan pergulatan demokrasi-reformasi versus politik Orde Baru – akan sangat membatu memahami  kuatnya perjuangan idealisme demokrasi dari seorang Wiji Tukul melalui seni dan aksi. Menontoton film ini, kita pun ditarik dalam arena percakapan yang ditampilkan untuk merasakan kolaborasi seni dan perjuangan yang berusaha mengatualisasikan realita kemiskinan, ketertindasan orang kecil, dan otoritarian penguasa membungkan rakyat jelata untuk tidak bersuara, yang dalam film ini digambarkan melalui Puisi-puisi rakyat yang menjadi kata-kata terucap seorang Wiji disepanjang Film ini.

Suasana pembungkaman begitu kuat terasa dalam dialog-dialog terbatas yang dimunculkan sepanjang pengembaraan ketika Wiji menjadi TO (target operasi). Walau ada dialog-dialog lepas dengan Thomas dan Marthin tetapi toh kita bisa merasakan ketegangan, kegusaran dan kekecewaan dari seorang Wiji ketika suaranya harus terhenti, karena ruang gerak dan kebebasannya dikunci dalam pelarian. Bahkan ketegangan tersebut harus dipikul Istri dan anak perempuan yang selalu terintimidasi oleh intel maupun  tetangga yang bukan saja mempertanyakan keberadaan Wiji tetapi juga merampas karya-karyanya, dan memaksa sang istri menandatangani persetujuan ... bahkan sang istri digosipkan ketika harus menemui Wiji dipenginapan.

Pada arena ini, walau dalam penggalan terbatas, sosok perjuangan sang istri ‘Sipon’ dan anak perempuan memperlihatkan  bahwa dunia politik kekuasaan selalu memakai perempuan dan anak sebagai tameng hidup untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi bersamaan itu kita juga dihadapkan sosok perempuan kuat dan mandiri yang memegang prinsip tentang hak dan privasi diri ... walau hati kecil rindu untuk Wiji selalu ada bersama mereka. Penggalan pada awal film ketika mereka diintimidasi untuk mengetahui keberadaan Wiji, ... lalu menjelang akhir harus berjumpa denga Wiji di penginapan, dan bahkan ke rumahpun harus bersembunyi .... menggambarkan pergulatan batin yang berat bagi seorang perempuan desa dari rakyat kecil untuk mempertahankan apa yang menjadi hak hidup mereka sebagai sebuah keluarga .... waktu kau jauh Aku tidak menangis ... tetapi justru kau ada aku menangis .... pada hal aku hanya ingin kau ada bersama kami

Memang sosok yang ditampilkan film ini adalah Wiji agar kita tidak boleh lengah dan berhenti menyuarakan demokrasi, penuntasan kasus-kasus HAM termasuk kasus-kasus penculikan yang juga dialami Wiji Tukul, sebagai utang yang harus terus ditagih. Tetapi di sisi lain jika kita memperhatikan --walau dalam penggalan terbatas -- kita menemukan wajah perempuan yang memilki integritas dalam bentangan perjuangan Wiji Itu sendiri. Ia tidak saja hadir mendukung idealisme perjuangan seorang Wiji tetapi juga pada saat yang sama Ia tampil sebagai seorang perempuan yang menjaga dan melindungi hak hidupnya bersama sang anak. Siulan yang muncul pada percakan dengan Wiji menjadi penggambaran akan kuatnya dukungan dan ketegaran seorang perempuan yang berhadapan dengan berbagai intimidasi. Ia tidak dikejar ... tetapi kebebasan dan ketentraman hidup dan rumah tangganya juga direnggut. Bahkan ia harus memukul sang tetangga yang menggosipkannya --- sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma terhadap perempuan yang hidup sendiri.

Wiji yang paling tau makna di balik judul “Istirahatlah Kata-Kata”, tetapi  bagi saya ini bentuk perlawanan terhadap pembungkaman Orde Baru. “Istirahatlah Kata-Kata” juga mengisyaratkan hal yang menyakitkan ketika ide dan pemikiran manusia tentang keadilan, tentang demokrasi, tentang hak asasi ... dilarang dikeluarkan dan harus “ditelan” kembali dalam pikiran dan raga. Ini tidak boleh terjadi .... ini harus diperjuangkan dalam tindakan ... termasuk menuntut keadilan terhadap penghilangan hak hidup, hak asasi, dan hak berbicara dari Wiji dan teman-teman.

Itu share saya tentang makna dibalik film “Istirahatlah Kata-Kata”...SEBAIKNYA TEMAN-TEMAN MENONTON FILM INI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar